Values

Elang Bungas. Elang yang Rupawan. Kata Bungas merupakan bahasa Banjar digunakan sebagai bentuk penghargaan terhadap budaya dan kearifan lokal (Banjar). Elang Bungas merupakan akronim dari:

EHLAS

Dimana seluruh sivitas akademika harus menyadari bahwa ikhlas adalah dasar dari segala Tindakan, berserah diri kepada Allah SWT terhadap segala keputusanNya merupakan salah satu pengejewantahan ikhlas

LANJAR

Dalam kehidupan akan selalu ditemui permasalahan, untuk itu seluruh sivitas akademika harus memiliki akal dalam mengatasi segala permasalahan

AKUR

Kondisi yang tenang, tentram dan kondisif harus selalu menjadi perhatian seluruh sivitas akademika dalam menjaga ketenangan dan kedamaian dalam pergaulan dimanapun.

NINIP

Seluruh sivitas akademika harus menjaga ketelitian dalam setiap kegiatan, akurasi data menjadi harga mati yang harus dikedepan sehingga dapat ditelusuri kebenarannya

GAWI

Seluruh sivitas akademika harus bekerja dengan baik serta mengedepankan Kerjasama yang harmoni

BAHIMAT

Seluruh sivitas akademika harus bekerja dan belajar dengan rajin, bekerja keras, cerdas dan cermat

USUNG

Selaras dengan bahimat maka seluruh sivitas akademika mampu bekerjasama, ringan sama dijinjing berat sama dipikul

NAHAP

Seluruh sivitas akademika harus memiliki pendirian yang baik dan teguh dalam mencapai tujuan/ visi yang ingin dicapai

GANCANG

Seluruh sivitas akademika harus memiliki kekuatan fisik dan mental dalam upaya pencapaian tujuan/ visi yang ingin dicapai

APIK

Seluruh sivitas akademika harus dapat memberikan hasil terbaik sebagai wujud keunggulannya

SUTIL

Seluruh sivitas akademika harus memiliki fleksibilitas dan mudah beradaptasi dalam berbagai situasi (luwes)

Filosofi Elang bagi Siswa dan Alumni Al Halaby Islamic School

Burung elang merupakan Sang raja unggas. Elang sering digunakan sebagai simbol atau lambang negara maupun organisasi militer. Secara filosofis burung elang dapat dijadikan pedoman hidup.

Elang selalu fokus pada tujuan

Elang memiliki pandangan yang sangat tajam. Dalam membidik mangsa, bahkan burung elang bisa melakukannya dari jarak puluhan kilometer. Kemampuan berburu elang juga didukung oleh kecepatan terbangnya yang mampu mencapai kecepatan 300 kilometer tiap jamnya. Jauh lebih cepat dari pacuan mobil, itulah sebabnya elang termasuk hewan yang hampir selalu berhasil dalam hal berburu. Kemampuan elang dalam berburu ini juga sekaligus bermakna untuk selalu fokus dalam menjalankan kehidupan. Fokus pada tujuan-tujuan (mimpi/visi) yang ingin dicapai dengan mengerahkan segala kemampuan terbaik. Anggaplah bahwa tujuan akhir adalah sang mangsa bagi burung elang. Maka kerahkan usaha terbaik untuk untuk mencapai tujuan itu.


Elang selalu meningkatkan potensi diri

Elang terbang jauh lebih tinggi dibanding unggas-unggas lainnya, Elang suka terbang lebih tinggi karena semakin tinggi ia terbang, maka semakin kencang pergerakan angin yang ia dapatkan. Apa sih hubungannya? Meski rata-rata unggas lainnya justru menghindari hembusan angin kencang saat terbang, elang justru sebaliknya. Elang justru mencari angin kencang untuk mengistirahatkan sejenak sayapnya dari gerakan mengepak. Selain terbang tinggi, elang juga suka tinggal di tempat-tempat tinggi seperti puncak pohon di daerah pegunungan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari serangan atau gangguan dari hewan-hewan lainnya. Elang yang tak takut akan ketinggian ini bisa dimaknai sebagai proses perkembangan diri dalam kehidupan. Tidak merasa takut untuk selalu memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak merasa lelah untuk berusaha mencapai hal-hal yang lebih baik dari sebelumnya.


Elang selalu berkawan dengan badai

Elang suka mencari angin badai disaat hewan lain justru menghindari terjangan badai. Karena badai tentu memiliki hembusan angin yang lebih kencang dan hal ini sangat sesuai dengan kesukaan elang. Memanfaatkan hembusan angin untuk terbang lebih tinggi, mengistirahatkan kepakan sayapnya. Elang bukanlah sosok burung yang menghindari badai, tapi justru menanti datangnya angin badai dan cenderung mencari lokasi keberadaan angin badai. Dalam hidup, seharusnya manusia juga mampu berkawan dengan masalah yang yang harus ditaklukkan/ disolusi. Bukan hanya bersikap tenang dalam menghadapi masalah, tapi juga menggali potensi positif di balik suatu masalah.

 

Elang selalu mandiri

Kesendirian elang dalam terbang ini mengajarkan bahwa untuk selalu berusaha menjadi pribadi yang mandiri. Baik dalam kondisi senang ataupun susah. Bukan dalam artian menjadi pribadi anti sosial, tapi dalam arti mandiri dan mampu menjalani kehidupan dengan kemampuan diri sendiri serta tidak menyusahkan orang lain.


Elang selalu mencari yang terbaik

Hewan-hewan tertentu gemar mengkonsumsi bangkai, Seperti beberapa spesies burung gagak, singa, ular, dan komodo. Hewan pemangsa bangkai tidak hanya berburu bangkai, tetapi juga menyimpan hasil buruan mereka dalam kondisi membusuk untuk kemudian dikonsumsi kembali. Elang sama sekali tidak pernah mengonsumsi bangkai. Elang selalu berburu hewan-hewan untuk dikonsumsi dalam kondisi segar. Dalam berkehidupan, kita seharusnya selalu meninggalkan hal-hal yang tidak baik dan berpotensi menjadi racun bagi diri kita sendiri. Apabila kita menerapkan kebaikan-kebaikan dalam hidup, yakinlah bahwa hasil yang kita peroleh pun juga sama baiknya.

Elang selalu keluar dari zona nyaman

Elang adalah penerbang yang hebat. Kemampuan itu tidak lahir dengan sendirinya. Induk elang melatih anak-anaknya dengan cara-cara yang cukup ekstrim. Induk elang melatih anak-anaknya untuk terbang bahkan sejak usia dua atau tiga bulan. Induk elang akan sedikit demi sedikit melepas komponen sarang tempat anak-anaknya berlindung. Tujuannya adalah agar si anak tidak benar-benar merasa nyaman berada dalam sarang dan segera keluar sarang untuk belajar terbang. Tidak berhenti sampai disitu, induk elang juga sengaja memberikan makan kepada anaknya dengan sedikit metode pancingan. Induk elang akan mengigit makanan di paruhnya sembari terbang berkeliling di sekitar sarang. Induk elang mendorong anak-anaknya untuk sedikit bergerak keluar sarang. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk segera membuat anak-anaknya berani keluar dari nyamannya sarang yang mereka tinggali.


Elang akan selalu memperbaharui dirinya

Seekor elang mampu hidup hingga usia 70 tahun, pernah kita mendengar istilah life begins at 40? Pepatah itu mengacu pada fase regenerasi elang. Jadi, ketika elang mencapai usia 40 tahun, sebenarnya fisik luar elang sudah mulai mengalami penuaan. Paruh elang mulai memanjang dan bengkok hingga mengenai dadanya. Bulu-bulu di sekujur tubuhnya juga tumbuh lebat dan menjadi semakin berat. Kondisi fisik elang ini otomatis membuatnya sulit untuk terbang dan berburu. Ketika elang mengalami kondisi tersebut, elang akan berusaha terbang ke tempat tertinggi yang bisa ia capai. Elang akan berdiam diri di sarangnya selama 150 hari. Bukan sekedar mengasingkan diri lho! Elang harus meregenerasi tubuhnya sendiri. Pilihannya adalah tersiksa atau mati. Elang akan mulai menghantam-hantamkan paruhnya ke bebatuan hingga paruhnya terlepas sepenuhnya. Selanjutnya, elang akan menunggu hingga paruh barunya tumbuh dengan sendirinya. Paruh barunya yang tajam akan ia gunakan untuk mulai mencabut cakar-cakarnya hingga terlepas sepenuhnya. Disusul juga dengan pencabutan seluruh bulu dari tubuhnya. Elang kemudian akan menunggu hingga cakar dan bulunya kembali tumbuh dengan yang baru. Setelah habis masa regenerasi selama 150 hari, elang akan siap kembali menjalani sisa 30 tahun kehidupannya dengan energi dan kekuatan yang terbarukan.

 

Karakteristik Elang diatas, mewujudkan keunggulan dalam mengarungi dinamika dan perubahan kehidupan.   Demikian juga Peserta didik/ siswa dan Alumni Al Halaby Islami School Banjarbaru diharapkan dapat selalu:

  1. Fokus pada tujuan.
  2. Meningkatkan potensi diri.
  3. Berkawan dengan badai, (tidak takut menghadapi perubahan).
  4. Bersikap Mandiri.
  5. Mencari yang terbaik.
  6. Selalu keluar dari zona nyaman (berani mengambil risiko dan menghadapi tantangan).
  7. Memperbaharui dirinya, menjadi seorang yang pembelajar, baik belajar dari akademis maupun kemampuan menyerap dari pengalaman hidup.